| แฟ้มประวัติBuku Harian Bahtiarรูปถ่ายบล็อกรายการ | วิธีใช้ |
|
01 มีนาคม DJAKARTA SEPEDA WISATA
Melanjutkan ide kala di Jokja, saya + Mas Bangsari + Mas Endiks sepakat menggelar SEPEDA WISATA di Jakarta. Bedanya dengan di Jogja, kalo di Jakarta : GRATIS, syarat-nya bawa sepeda dewe-dewe. Acara di mulai jam sebelas malam, tiap malem minggu, start dari Bunderan HI. Rute menelusuri jalur Bus Way yang udah kosong itu. Soo, kagem pembaca yang punya sepeda angin, apapun merk, jenis, dan
model-nya, monggo gabung bersama kami, bersepeda muter-muter Djakarta
di malam hari, menyusuri jalur bas we di antara koridor yang ada 04 มกราคม PASANG JANGKAR SEPEDA ONTEL ONTA KUNO ANTIK
Waktu iseng gugling sepeda fongers ketemu dua berita di bawah ini: Hemat Energi dengan Sepeda Antik Harganya Sama dengan Motor China INSTRUKSI Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk melakukan penghematan energi, jauh hari sudah dilaksanakan sekelompok penggemar sepeda antik di Kota Brebes. Aktivitas kelompok yang tergabung Paguyuban Sepeda Antik Indonesia (Pasti) tak dipublikasikan, karena mereka tak mau dianggap sensasional. Setiap anggota menerapkan pola hemat energi, dalam konteks terbatas. Seperti ketika malam hari berkunjung ke rumah teman atau saudara, sepeda menjadi alat angkut yang ekonomis. ‘’Teman-teman anggota Pasti sudah membiasakan diri, ke mana pun pergi naik sepeda antik. Namun untuk ke kantor belum, takut dianggap sensasi,'’ ujar Asih Pamubudi SH, salah seorang penggemar sepeda antik. Lelaki bertubuh atletis itu mengatakan, ketika menjabat camat Brebes -sebelum SBY mengumumkan instruksi hemat energi- dirinya sering ke kantor naik sepeda merek Gazelle. Dari rumahnya Jl Samosir sampai ke kantor sejauh tiga kilometer, ditempuh dengan mengayuh sepeda antiknya. Asih dan anggota Pasti sangat mendukung program hemat energi yang dilakukan pemerintah. Sebab dengan naik sepeda, badan menjadi sehat. Selain itu tak perlu mengeluarkan uang untuk membeli bensin. Anggota paguyuban juga mempunyai agenda rutin setiap Minggu pagi, yakni bersepeda bersama ke Kota Tegal untuk berekreasi sekaligus olahraga. Anggota Pasti semula hanya beberapa orang, tetapi kemudian bertambah dan kini menjadi 26 orang. Personelnya sebagian besar pejabat, mantan pejabat, guru, pensiunan PNS dan TNI. ‘’Kami ingin menjalin hubungan silaturahmi antarpenggemar sepeda antik. Prinsip banyak kawan banyak rezeki, kami terapkan di sini,'’ papar Edy Raharto, pejabat eselon III di Badan Pengawas Daerah (Bawasda). Tentang sepeda antik, banyak cerita yang disampaikan anggota Pasti. Yang jelas, sekarang untuk mencari sepeda tua dalam keadaan serba-orisinil sangat sulit. Jika ada di pasaran pun harganya sangat mencekik leher. Berapa harga sepeda Gazelle seri 11? ‘’Saya tidak bisa cerita harga, karena ini kesenangan. Kalau senang dengan barangnya, harga bisa dari Rp 1 juta sampai puluhan juta,'’ kata Asih. Tak Semua Orisinil Cerita Edy lain lagi, dia punya Gazelle tetapi tidak semua orisinil. Sadel atau jok model masa kini. Suatu ketika dia mampir ke sebuah bengkel sepeda dan bertemu orang sedang memperbaiki sepedanya. Kebetulan sadelnya orisinil, sehingga langsung ditawar Rp 50.000. ‘’Eh dia ternyata mau saya bayar Rp 50.000, meski sebelumnya dia merasa keberatan,'’ paparnya. Sadel asli pada bagian atas tengah tertera merek Gazelle. Merek sepeda tua yang dipakai anggota Pasti antara lain Batavus, Simplex, Humber, Raleigh, Fongres, Gazelle, dan BSA. Para pemakai sepeda antik rata-rata tidak mengetahui tahun berapa pembuatan sepeda itu. Mereka hanya mengira-kira tahun 1927 sampai 1945. ‘’Tetapi kemungkinan umurnya lebih tua, karena tahun pembuatan tidak tertera di bodi,'’ ujar mereka. Perburuan sepeda antik belakangan juga banyak dilakukan para belantik (penjual jasa) sepeda. Ada di antara mereka sudah mengenal pemilik sepeda antik dari Brebes sampai Semarang. Menurut Yanto -seorang belantik sepeda- harga sepeda antik bisa mencapai Rp 6 juta-Rp 10 juta, tergantung pada kemulusan barang dan keorisinilannya. ‘’Ya harganya memang sama dengan motor produksi China,'’ ujarnya. Untuk mengenali sepeda antik sebenarnya sangat mudah. Biasanya pada bagian tertentu, khususnya bodi tertera merek dan di bawah sadel tertera nomor seri. Merek Gazelle misalnya, dikenali memiliki ciri pada pelek. Yakni di bagian tengah berwarna hitam. Kemudian di spakboar terdapat kelinan untuk kabel lampu belakang. Di ujung depan terdapat lambang binatang Kijang, dan di gir genjotan ada lambang Kijang tiga buah. ‘’Pokoknya kalau kita mau beli harus hati-hati, jangan percaya begitu saja pada belantik,'’ paparnya. Meski umur sepeda hampir rata-rata kepala lima (50 tahun), kondisi sepeda anggota Pasti masih cukup baik. Ketika dinaiki tak kalah dengan sepeda model masa kini. ‘’Nyaris tak ada suara apa pun ketika kita naiki, genjotannya juga enteng,'’ ungkap Asih. Meski sudah merupakan barang tua, ada salah satu toko di Kota Tegal yang hingga kini masih menyediakan ban sepeda Gazelle, tetapi harga satu ban bisa mencapai Rp 700.000. Berita lagi : Suara Merdeka juga Nostalgia dengan Naik Sepeda Tua Rely Gondok Asli Rp 3 Juta SEKITAR dekade 1960-an hingga 1970-an, penampilan seseorang bisa diukur dari sepeda yang mereka naiki. Jika mereka naik sepeda merek Rely Gondok dan bertopi garbus ala cowboy, langsung bisa ditebak bila dia berstatus sosial tinggi atau orang kaya. Kala itu yang biasa memakai sepeda Rely Gondok, Northon, Gazele, Simplek, Fongres, atau Gimbar muncul dari kalangan orang berduit. Mereka biasanya juragan bawang merah, mandor tebu, sinder tebu, dan kalangan atas berpenghasilan besar. Dengan bunyi sepeda yang khas, cek…cek…cek, memang lain dengan sepeda biasa. Kerangka sepeda juga memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan dengan sepeda model sekarang. Potongan lebih kukuh, baik sepeda laki-laki maupun wanita. Pada jok tepat duduk menggunakan bahan kulit tebal dan setang melengkung ke belakang. Mereka yang menggunakan sepeda itu untuk zaman sekarang barangkali sama dengan kendaraan roda empat sekelas Toyota Kijang atau Izusu Panther. ‘’Dahulu bila tak sekelas majikan atau juragan, tak bakalan naik sepeda mahal lantaran sepeda motor belum begitu banyak,'’ papar Mikrad (50), belantik sepeda asal Desa Pamengger, Jatibarang, Brebes. Sekarang masihkan sepeda-sepeda tua itu? Nuridin yang biasa mangkal di pinggiran jalan Kota Jatibarang menuturkan, jenis sepeda itu menjadi barang langka. Mencarinya juga harus di pedagang sepeda bekas. Di Kota Brebes bisa dijumpai di Jalan AR Hakim dan Jalan Letjen Soeprapto, lokasi mangkal para belantik sepeda. Di sekitar Kota Bumiayu, di jalan menuju Kecamatan Bantarkawung khususnya pada hari pasaran wage. ‘’Di Kota Jatibarang, belantik sepeda kuno bertebaran di sepanjang jalan dan di belakang pasar,'’ ujar Udin, warga Jatibarang. Harga Bervariasi Warno, pedagang sepeda bekas di Jatibarang mengungkapkan, harga sepeda kuno bervariasi mulai dari Rp 500.000 sampai tertinggi Rp 1,5 juta. Tapi bila ada juga yang masih bagus dan semua onderdil orisinil bisa Rp 3 juta. Yang unik dari sepeda tua itu, pemilik umumnya membiarkan cat sepeda dalam bentuk orisinil. Perangkat lampu, bos (baterai), dan sadel (jok) tetap dibiarkan seperti kondisi awal. ‘’Meski warna cat diubah menjadi lebih mulus tak akan mendongkrak harga,'’ papar mereka. Sukardi, salah seorang perangkat desa, bercerita tentang sepeda kunonya. Tiga puluh tahun silam, dia naik sepeda merek Gazele yang waktu itu menjadi incaran orang berduit. Karena saking gagahnya bersepeda mahal waktu itu, dia bisa memboncengkan gadis kembang desa. Kendati kini menjadi barang langka, onderdil sepeda merek kuno masih bertebaran. Sayang, kualitas onderdil keluaran baru kurang baik. Selain kekuatan beda jauh, barang baru krumnya cepat kusam. Untuk mengetahui sepeda tua itu orisinil atau tidak, mereka melihatnya dari nomor seri, dan cap atau lebel pada bagian depan kerangka. Cap itu tak bisa dipalsu, makin kuno tahun pembuatannya makin jadi kejaran pemburu barang antik. Salah seorang yang gemar mengoleksi sepeda tua adalah Teguh, warga Perumnas Kaligangsa Wetan, Brebes. Lelaki itu sebetulnya mampu membeli motor atau mobil, tapi sepeda tua setia menemani dalam keseharian. Dia menganggap bersepeda tua memiliki nilai tersendiri. Seakan ada kesejukan batin dan bisa mengenang sang kakek yang juga penggemar sepeda.
PAJANG SEPEDA: Para belantik sepeda di pinggir jalan ibu kota Kecamatan Jatibarang, Brebes sedang memajang sepeda tua. Peminat juga banyak berdatangan dari berbagai daera. Aku pasang jangkar ini karena aku suka dan punya pit onta me-Non-Aktifkan Voice Box XL
Setelah saya posting [BOIKOT XL], dapet masukan dari Mas Awaloeddin di [Cangkrukan]. Saya kopipastekan yaa ... :) itu cuman miskomunikasiMakasih Mas Awaluddin ... :) Pagi ini header-nya Google bagus, seperti di atas :) Agar langsung masuk ke email saya, untuk komentar di link ini aja yaa ... 26 ธันวาคม NATAL BARENG CINTAH DE PARESNatal (selamat buat pembaca yang merayakan) kemaren, jalan-jalan dengan Cintah ke Pares. Lama ga ke sana sepertinya dia seneng banget. Sekilas foto ada di [sini]. |
|
|||||||||
|
|